Kamis, 31 Januari 2013

Fakta dan Opini



Fakta dan Opini

Fakta
Fakta adalah hal atau keadaan yang benar-benar ada atau terjadi. Setiap orang akan memiliki kesamaan dalam pengamatan fakta.
Contoh fakta: Pada hari Sabtu,  5 Juli 2008,  lima orang pembuat batik mendapat penghargaan dari pemerintah.

Opini
Opini adalah perkiraan, pikiran, pendapat, atau anggapan tentang suatu hal. Pendapat orang mengenai suatu hal berbeda-beda. Perbedaan pendapat bergantung pada sudut pandang dan latar belakang yang dimiliki. Pendapat dapat berupa saran, kritik, tanggapan, harapan, nasihat, atau ajakan.
Contoh opini: Batik buatan Ibu Rukmi sangat bagus dan halus.

Contoh-contoh kalimat fakta
1.      Penyakit yang pertama kali dilaporkan pada September 2009 itu dijuluki penyakit mengangguk  karena menyebabkan penderitanya menganggung-angguk.
2.      Penyakit aneh itu kini menyebar ke beberapa distrik di wilayah utara Uganda, seperti Kitgum, Lamwo, Pader, Agago, dan Amuru.
3.      Penyakit aneh tersebut ditandai dengan kepala yang mengangguk, keterbelakangan mental, dan pertumbuhan badan anak dan remaja yang terinfeksi akan terhambat. Ketika makan, penderita baik anak-anak maupun dewasa, kepalanya akan mengangguk-angguk.
4.      Tim penggalian benda kuno pimpinan arkeolog Prancis Christopher Tiers  sedang merestorasi kuil Amun Ra di Luxor  ketika menemukan sebuah pintu kapur yang berasal dari masa kekuasaan dinasti ke-17, saat firaun tersebut berkuasa.
5.      Melalui teknologi ultrasonografi 4 Dimensi (USG 4D) diketahui bahwa janin bisa tersenyum dan menangis saat masih dalam rahim.

Contoh-contoh kalimat opini
1.      Dokter memperkirakan, jika kembali sadar, kemungkinan Yanto bisa mengalami kerusakan ingatan, bisu, atau lumpuh.
2. Kisah Yanto ini juga sekaligus membuka kembali borok-borok kondisi sosial, ekonomi, dan bahkan politik negara kita. Wajib belajar yang digembar-gemborkan ternyata masih merupakan impian indah.
3. Banyak orang Muslim yang tidak bangga menjadi Muslim dan tidak menjadikan tokoh-tokoh Islam sebagai idola mereka karena tidak mengenal sejarah Islam dengan benar.
4. Semangat ilmiah dan perjuangan dalam dakwah Islam perlu kita warisi dari para ulama dan tokoh seperti Buya Hamka.
5. Melihat tema yang dibahas dalam disertasi Abd. Moqsith tersebut, harusnya para ahli tafsir di Indonesia tertarik untuk menyimaknya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar